Sabtu, 10 Oktober 2015

Rindu Hujan

Pagi ini sudah memasuki awal Oktober. Sudah seharusnya butir-butir kehidupan turun membasahi bumi. Tapi hujan tak kunjung turun. Bumi pun merindukan hujan. Sama seperti aku, yang merindukanmu. Sangat.

September lima yang lalu, kau berdiri di ambang pintu rumah ku. Kau berdiri dibawah hujan yang teramat deras. Sedangkan aku, terduduk di dalam kamar dengan membawa semua amarahku. Sesekali aku mengintip  melalui jendela kamar. Terlintas di pikiranku, aku merasa kasihan. Ingin rasanya membukakan pintu, dan memelukmu erat. Tapi ego ku terlalu besar untuk mengakuinya. Ya, aku bodoh saat itu. Aku hanya mementingkan ego ku. Pada saat itu yang aku pikirkan hanyalah, seseorang yang berkencan dengan perempuan lain padahal dia masih mempunyai kekasih adalah tindakan fatal. Ya, otakku langsung mengambil kesimpulan seperti itu tanpa aku tahu alasanmu yang sebenarnya.

Seminggu setelah kejadian itu, aku memutuskanmu. Tepat di hari jadi kita yang pertama. Kekecewaanku yang teramat dalam membuatku kehilangan separuh jiwaku. Kepergianmu meninggalkan luka. Namun ego ku buru-buru menyembuhkannya. Iya, karena keegoisanku, luka ini pun sembuh. Dan aku sanggup menjalani hari tanpamu.

Aku memutuskan untuk melanjutkan studi ke negeri orang. Berharap bisa melupakan sisa memori tentangmu. Akhir-akhir ini aku baru tahu siapa wanita yang berkencan denganmu saat itu. Sebenarnya, itu tidak bisa dikatakan berkencan. Kau hanya mengobrol di cafe bersama gadis itu. Ternyata gadis itu adalah sepupumu. Yang ingin membantumu untuk menyiapkan kejutan dihari jadi kita. Sungguh, betapa sempitnya pikiranku saat itu.

Lima tahun berlalu, kabar terakhir tentangmu yang aku terima adalah kau akan segera menikah dengan wanita lain. Luka yang bertahun-tahun telah mengering, kini luka itu menganga kembali. Berkali lipat lebih sakit dari sebelumnya. Ada penyesalan yang teramat dalam. Mengapa aku tidak keluar dari rumah, memelukmu dibawah hujan, dan membiarkanmu masuk lalu kau menceritakan yang sebenarnya? Mengapa aku sebodoh itu? Mengapa aku seegois itu?


Nasi telah menjadi bubur. Namun bubur juga bisa terasa enak jika dinikmati dan disyukuri. Rasanya tak mungkin juga aku menggagalkan pernikahanmu. Jika aku lakukan itu, maka aku sama saja seperti dulu. Termakan oleh keegoisanku. Namun, jika boleh aku mengatakan sesuatu "Aku merindukanmu. Bolehkah aku kembali ke lima tahun yang lalu? Di musim hujan bulan September? Aku merindukanmu. Aku merindukan kita. Aku merindukan hujan."

Jumat, 02 Oktober 2015

Dia yang PHP Atau Kita yang Baper?

Hello Readers!
Long time ga ngeblog hehehe. Tiba2 malem ini karena gabut rangkum biologi jadi  pengen ngeblog. Lalu kepikiran untuk bahas "PHP". Bahasan klasik yang selalu asik untuk dibahas.

PHP. PHP itu singkatan dari pemberi harapan palsu. Hal ini rentan dialami oleh ababil atau abege labil yang lemah dalam cinta.

Masalah PHP ini kompleks banget loh. Kalo main salah-salahan gaka akan kelar. Si cewek bilang kalo semua cowok sama aja, yang bisanya deketin lalu pergi tanpa kabar. Sang cowok pun ga terima disalahin, lalu membela dengan pembelaan klasik "Siapa suruh kegeeran?", klasik tapi nyakitin. Lalu mereka terus salah-salahan sampe Deddy Corbuzi*r gondrong:v

Nah, yang gua mau bahas disini adalah, jadi siapa yang salah? Dia yang PHP atau kita yang baper?

Kita disini adalah perempuan.

Sebelum lanjut yuk liat definisi cowok PHP menurut gue.

Definisi cowok PHP menurut gue adalah, cowok yang berniat sengaja hanya mempermainkan si cewek itu. Dia hanya berniat untuk datang lalu pergi.

Lalu definisi cewek korban PHP menurut gue adalah, cewek yang terlanjur berkesimpulan semua cowok yang deketin dia berarti suka atau berharap lebih. Atau simpelnya keburu baper duluan.

Banyak kasus yang sebenernya si cowok ini ga berniat PHP, dia hanya sekedar ingin bertemen akrab. Namun mungkin dia emang terlalu baik ke semua orang, jadi dia berpotensi untuk bisa bikin baper cewek-cewek. Kalo tipe cowok yang begini ketemu sama cewek yang gampang baper, si cowok ini bisa dicap PHP. Parah banget kan? Padahal si cowok ga berniat PHP. PHP yang kaya gini gua sebut "PHP Intentionally".

Lalu kedua adalah, cowok ini emang berniat untuk PHP. Ciri-cirinya adalah dia baik cuma ke satu cewek (meskipun baiknya palsu). Cowok begini langsung bisa disebut "The Real PHP" sekalipun cewek itu gak baper, tetep aja niatnya udah ga baik.

Terus sebagai cewek kita harus apa? Kita harus analisis baik-baik cowok yang deketin kita ini tulus atau engga, niatnya mau serius atau bercanda. Jangan buru-buru baper kalo kamu diperhatiin. Harusnya malah curiga, jangan-jangan bukan cuma kamu yang diperhatiin. Dan jangan langsung bilang cowok itu PHP tapi koreksi diri juga, siapa tau kita yang baper:3

Satu kalimat untuk mengakhiri tulisan ini: Hanya karena dia baik sama kamu bukan berarti dia mau jadi pacar kamu, siapa tau dia cuma berbuat baik:3

Good night all😘

-eL

Hati yang Baru

Di bawah langit kelabu kota Yogyakarta yang saat itu telah memasuki  akhir tahun, Ardy memeluknya erat. Matanya yang teduh dan senyum manisnya yang tipis seraya berkata
“Apa yang kamu liat barusan itu nggak seperti yang sebenarnya Nin, Reva tiba-tiba datang dan peluk aku begitu aja. Tapi plis, percaya sama aku. Percaya sama apa yang udah aku jelasin ke kamu sebulan yang lalu, diperon stasiun Gambir, malam terakhir sebelum aku kuliah ke Yogya. Aku sahabat kamu. Yang terlanjur jatuh cinta sama kamu. Harusnya kamu percaya sama aku kalo aku bisa balikin ke bahagiaan kamu”
“Tapi apa yang aku liat barusan itu apa?”
“Itu salah paham Nin, aku janji, aku akan nyembuhin luka dihati kamu yang terlalu sempurna dia buat. Kasih aku satu kesempatan Nin”
“Janji?” Tanyaku sambil menahan tangis
 “Janji.” Ucapnya mantap, dan memeluknya lebih erat. Ia pun tenggelam dalam tangis di dadanya.
Terkadang, karena kita terlalu sibuk menghitung bintang, kita jadi lupa betapa indahnya bulan. Apa yang tak pernah kita harapkan, terkadang bisa menjadi jawaban dari semua persoalan. Begitu pula Ardy, yang kehadirannya baru Nina sadari, namun ternyata begitu berarti.
***
“Jadi ini yang selama ini kamu lakuin dibelakang aku? Kamu jahat Dik, kamu jahat! Aku nggak nyangka. Hubungan kita sampe disini aja”
“Oke. Kita putus.”
Satu kata yang yang mengubah semuanya. Satu kata yang membuat harinya kelabu. Satu kata yang membuat teh manis terasa pahit seperti jus pare. Putus. Ya, kalimat itu terlontar dengan mudahnya dari bibir seseorang yang selama ini teramat ia cintai. Dika Mahendra, laki-laki yang sejak dua tahun yang lalu menjadi sandaran ketika ia tak kuasa menahan permasalahan hidup. Sudah banyak lika liku yang mereka lalui selama ini. Bahkan masalah sesulit apapun pernah mereka lewati.
Tak di sangka, kehadiran wanita itu mengubah segalanya. Mengubah Dika-nya yang dulu. Dika-nya kini telah hilang, hilang bersama kenangan manis yang pernah terjalin. Baginya ini sulit. Sangat sulit. Bagaimana bisa, wanita  yang baru hadir di kehidupan Dika-nya itu mengubah segalanya? Atau memang kehadiran Dika di hidupnya sudah habis masanya? Entah. Nina masih tak bisa berdamai dengan apapun.
Ia, Nina Prastika. Gadis yang masih berseragam putih abu-abu yang setiap hari pergi ke sekolah dengan senyum ceria ini mendadak kehilangan sinarnya. Nina yang dulu, setiap berangkat ke sekolah wajarnya selalu lebih cerah daripada sinar mentari pagi. Namun kini, sejak kejadian itu, setiap hari wajahnya murung. Sendu. Gelap. Sinar yang terpancar bak lampu 5 watt yang sudah usang. Redup.
***
“Hah? Lo putus Nin? Hahaha kok bisa sih?” Tanya Ardy, ketika mereka sedang makan di kantin. Ardy adalah sahabat Nina sejak kecil. Rumah mereka pun berdekatan.
“Iya Dy, gue putus. Gak nyangka banget ternyata selama ini dia jahat sama gue. Dia gak sebaik yang gue piker” keluh Nina sambil mengaduk es teh yang sejak tadi ia pesan namun tak kunjung ia minum.
“Yaudah lah bagus lo putus. Kan jadinya lo tau dia sejahat apa. Jalanin aja. Nanti juga pasti akan ada kok orang yang sayangnya tulus sama lo.”
“Nanti? Kapan? Mulai detik ini gue udah gak percaya lagi sama mulut manis cowok ya. Nyatanya cowok terbaik yang pernah gue kenal kayak Dika aja, bisa sejahat ini. Sama sekali gak nyangka, cowok yang agamis aja masih bisa selingkuh. Gimana yang lain?”
“Ya terus lu mau sampe kapan gini? Gak mungkin lu menyamakan semua orang lah”
Nina hanya mendengus kesal. Dalam hatinya masih kesal, marah, kecewa, dan sedih. Ia tak berminat melanjutkan perkataan Ardy.
“Atau jangan-jangan lu gak suka cowok lagi yaa?” Tanya Ardy berusaha membuat Nina tersenyum.
“Hah? Gila! Ya enggak lah. Gue masih normal kali. Tapi yaaa.. masih takut aja untuk buka hati”
“Mau sampe kapan begini?”
“Entah.”
***
            Malam harinya, di depan meja belajarnya, Ardy duduk di kursi, sembari tangannya memijat tombol-tombol laptop miliknya. Ia rupanya sedang menyalurkan hobi menulisnya. Menulis untuk blog pribadinya yang menggunakan nama samaran “Dyarhamka”. Entah apa makna nama itu. Yang jelas itu cukup membuat blog nya menarik dan tulisannya semakin dicintai oleh pembaca. Termasuk Nina.
            Ardy masih mengingat kejadian tadi siang. Ketika Nina bercerita bahwa ia tak lagi bersama dengan Dika. Ada  kebahagiaan yang teramat dalam di hati Ardy. Sama bahagianya ketika ia mendapatkan nilai 100,00 untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Namun, ia juga tak mengerti mengapa ia sebahagia itu mendengar cerita Nina yang baru saja putus dari pacarnya. Walaupun, sejak awal Ardy memang kurang suka dengan perangai Dika yang ibarat dua sisi mata uang. Bermuka dua.
            “Kok gue seneng ya Nina putus? Harusnya kan gue sedih liat sahabat gue sedih. Tapi kok ini malah seneng? Ah tapi gapapa lah. Dia kan putus sama cowok yang gak baik.” Ardy berkata pada dirinya sendiri dan sesegera mungkin melupakan apa yang ia pikirkan barusan.

***
            Hari-hari Nina terasa semakin kelam. Nina masih tenggelam dalam kekecewaan yang dialaminya. Rasanya makanan seenak apapun, dihadapannya menjadi tidak ada artinya. Kejadian ini membuatnya kehilangan selera untuk makan. Nina tak ada bedanya dengan mayat hidup. Badannya kurus, pucat. Yang ia lakukan setiap hari sepulang sekolah hanya membuka handphone dan membuka percakapan-percakapan lamanya dengan Dika.
            Pernah suatu pagi, ia melewatkan nasi uduk Bu Warti kesayangannya di karenakan lidahnya tak selera untuk menyantap apapun. Ia hanya  meneguk segelas susu yang dibuat ibunya. Hari itu Nina pergi ke sekolah tanpa menyantap sesuap nasi pun. Padahal biasanya, ia tak pernah ketinggalan untuk menyantap nasi untuk sarapan, apalagi nasi uduk Bu Warti kesayangannya.
            Sesampainya di sekolah, Nina tidak dapat berkonsentrasi terhadap pelajaran dengan baik. Otaknya masih di penuhi oleh seseorang bernama Dika yang telah menyakitinya belakangan ini. Sedangkan ia jugan menahan sakit di perutnya yang rasanya seperti luka ditetesi air jeruk nipis. Perih. Dikarenakan ia tidak menyantap nasi pagi ini.
            “BRUAAAKKKKKKK”
            Sebuah bola basket melayang tepat mengenai kepala Nina yang sedang berjalan melewati pinggir lapangan basket ketika istirahat. Rupanya disana adalah, Rico, kapten basket yang tampan nan terkenal itu.
            “Eh sorry, gak sengaja. Lo gapapa?’
            “Gapapa gimana? Ini sakit banget sumpah. Pusing.”
            “Sini gue bantu ke UKS”
            Rico membantu Nina ke UKS. Rico yang selama ini Nina tahu adalah laki-laki yang nakal dan tidak sopan terhadap wanita. Namun pandangan tersebut berubah ketika Nina melihat sendiri Rico mau bertanggung jawab setelah tidak sengaja melempar bola basket ke arah Nina.
            “Makasih yaa udah nganterin gue kesini” Nina berkata sambil tersenyum
            “Iya sama-sama. Maaf juga udah ngelempar bola sembarangan. Jadi kena lo deh. Oiya, nama gue Rico, XII IPS 1. Kalo lo?” Tanya Rico sambil mengulurkan tangan
            “Nina, XII IPA 3”
            Semenjak kejadian itu, mereka menjadi semakin akrab. Hampir setiap hari mereka bercerita melalui aplikasi pesan singkat. Sekali dua kali Rico pun mengantarkan Nina pulang kerumah. Tapi, ada hal yang tidak terliha oleh mata Nina. Sesuatu yang mungkin bisa mematahkan hatinya yang belum utuh sempurna akibat dihancurkan oleh Dika.
***
            “Ric, gue liat lo lagi deket ya sama Nina?” Tanya Dika
            “Hah? Deket? Apaan deh? Biasa aja lah.”
            “Waktu itu gue liat lo anter dia pulang dan kalian sempet jalan bareng kan?”
“Yaelah, itu mah biasa. Gue sering kali ngelakuin itu sama cewek lain. Mungkin dia nya aja kali yang kegeeran ahahhahaa”
            “Serius lo ga ada rasa sama dia?
            “Ya enggak lah. Mana mungkin gue suka sama cewek kayak dia. Yang lebih cantik kan banyak”
            “Yakin lo gak akan suka sama dia?”
            “YAKIN! Dia Cuma buat mainan gue aja”jawab Rico mantab
            “Gue tantang lo bikin dia baper, sampe jadian. Kalo bisa, lo boleh minta apa aja sama gue.”
            “It’s an easy thing to do bro. Liat aja nanti”
            Rico yang semula memiliki niat untuk berteman baik dengan Nina menjadi berbalik arah. Ia tertantang dengan ucapan Dika. Dan ia bertekad untuk mempermainkan hati Nina demi mendapat kepuasan tersendiri. Sungguh tak ada yang pernah tahu isi hati terdalam manusia. Yang terlihat berhati malaikat pun bisa sekejap berubah menjadi berhati iblis. Percakapan antara dua laki-laki itu ternyata tanpa disengaja terdengar oleh telinga orang ketiga. Orang itu adalah Ardy.
            “Hah? Jadi Rico itu temen deketnya Dika? Dan dia cuma mau mainin Nina? Wah gak bisa dibiarin. Nina harus tau.”
            Setelah itu disekolah, Ardy tidak berhasil menemui Nina. Handphone-nya pun tidak bisa dihubungi. Lantas pada malam harinya Ardy memutuskan untuk pergi kerumah Nina dengan menggunakan Ninja-nya.
            “Assalamu’alaikum Nina..”
            “Wa’alaikumsalam.. eh Ardy.. mau pergi sama Nina ya?” Tanya Ibu Nina
            “Hah? Engga kok tante. Ini saya aja cuma pake kaos sama jeans pendek. Emang Nina mau pergi kemana tante?” Tanya Ardy keheranan. Belum sempat ibu Nina menjawab, Nina pun turun dari tangga dengan pakaian rapi hendak ke pesta. Nina sangat cantik bak putrid dari negeri dongeng.
            “Mau kemana lo Nin? Kok gak ngajak?”
            “Sori Dy gue gak bilang. Ini gue mendadak diajak Rico nge-date.”
            “Hah? Nge-date? Lo serius sama cowok itu? Dia itu gak baik.”
            “Aduh plis deh, Cuma nge-date doang kok. Kenapa sih setiap gue deket sama cowok lo selalu aja ganggu? Lo gak suka gue seneng? Sahabat macem apa lo?”
            “Tapi Nin, apa yang gue bilang ini bener” ujar Ardy berusaha membela diri. Tiba-tiba terdengar suara mobil, rupanya mobil itu milik Rico.
            “Yaudah gue jalan dulu. Nanti aja kalo mau ceramahin gue”
Begitulah Nina, meski terlihat lembut, tapi ia memiliki watak yang cukup keras. Maklum, anak semata wayang. Hal itu cukup dimaklumi Ardy. Namun rasanya, ada kekhawatiran berlebih dihatinya melihat Nina, sahabatnya, pergi bersama laki-laki lain. Tidak. Ini bukan kekhawatiran biasa. Ini berbeda. Tapi Ardy masih berusaha sekuat tenaga menyangkal perasaan itu.
***
            Malam itu menjadi malam yang indah buat Nina. Setelah sekian lama tidak merasakan kebahagiaan itu. Setelah sekian lama hatinya terluka. Setelah sekian lama ia enggan membuka pintu hatinya untuk laki-laki manapun. Malam itu menjadi awal yang baru. Nina membuka kembali hatinya untuk seorang pria. Meskipun ia tak yakin, luka hatinya sudah sepenuhnya sembuh atau malah ini hanya pelampiasan perasaannya saja. Entah. Senyum kembali menghiasi wajahnya. Nafsu makan menjadi kembali seperti sedia kala. Sarapan nasi uduk tak dilewatkannya. Yang jelas ia sudah tak sabar untuk berbagi kabar baik ini kepada sahabatnya, Ardy.
            “Hai Dy! Maafin yaa soal tadi malem. Gue mau cerita nih”
            “Iyaa, dimaafin kok. Gue udah paham watak lu gimana. Mau cerita apa? Kayaknya seneng banget”
            “Iyalah seneng. Semalem, gue ditembak Rico!” jawab Nina sumringah
            “Hah?! Serius?! Lo bener-bener keras kepala ya. Gak pernah mau percaya apa yang gue bilang. Kalo terbukti Rico itu bukan cowok baik, gimana?”
            “kok lo marah banget sih? Harusnya lo seneng dong sahabat lo bisa bahagia lagi sekarang. Kok malah marah-marah gini?”
            “Yaudah terserah. Kalo sampe lo disakitin lagi sama cowok, gak usah nyari gua”
            Tubuh Nina membeku. Ia masih tak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya. Ardy sahabatnya tak pernah semarah ini. Ternyata kenyataan tak sesuai harapan. Ardy yang Nina pikir akan ikut berbahagia melihat dirinya sudah membuka hati untuk orang lain, ternyata malah marah sejadi-jadinya. Nina yang sudah sangat mengenal Ardy pun tak bisa mengerti arti dibalik kemarahan Ardy. Bukan marah biasa. Bukan marah seorang sahabat. Melainkan marahnya seorang lelaki yang melihat wanita pujaannya jatuh cinta kepada laki-laki yang salah.
***
            “Gak, gue gak boleh begini. Kok gue marah? Harusnya gue biasa aja dong. Kan Nina juga udah pernah pacaran sama orang yang lebih jahat dari ini. Tapi kok ada rasa yang beda? Perih. Gak. Gak mungkin. Gak boleh. Sampe kapan pun juga, gak boleh. Gak boleh itu terjadi.”
Ardy memaki dirinya sendiri. Sengaja ia tidak langsung pulang kerumah. Karena ia tau, rumah hanya akan membuatnya memikirkan tentang Nina. Saat ini, ia sedang berusaha menenangkan pikirannya di sebuah coffee shop sambil menulis untuk blognya tentang apa yang ia rasakan saat ini. Tiba-tiba sekilas ia melihat dua orang yang familiar memasuki café dan duduk di salah satu sudut café. Ardy memicingkan mata dan dilihatnya Rico dengan wanita lain! Dengan cepat ia mengambil ponsel disakunya lantas mengambil gambar kedua orang itu. Dengan cepat ia mengirim gambar itu ke Nina.
“Nin, coba liat ini siapa” tulis Ardy dilayar ponselnya dan mengirim gambar kedua orang itu.
“Hah? Itu Rico?! Sama siapa?!” balas Nina yang kelihatan sangat kaget
“Iya, itu Rico sama Rita. Terbukti kan apa yang gue bilang. Masih gamau percaya?”
“Ya ampun Dy, gue gak nyangka ada yang setega ini sama gue. Rico bilang hari ini dia ada les musik. Ternyata dia malah jalan sama Rita.”
***
Gadis cantik itu kembali kehilangan sinarnya. Sinar yang baru saja hidup kembali, sekejap dipadamkan oleh sesuatu yang sudah menyalakannya. Bantal, kasur, dan selimut yang basah air mata menjadi saksi betapa hancurnya hati gadis ini. Matanya kini tinggal segaris. Sembab. Akibat menangis semalam suntuk. Tak ada selera makan. Tak ada senyuman. Lenyap.
Hari terus berganti, hanya Ardy yang selalu setia menemani. Namun rupanya hati Nina terlalu keras untuk menyadari bahwa ada ‘tabib’ handal disampingnya yang lebih dari siap dan mahir untuk mengobati luka hatinya. Nina tetap pada pendiriannya bahwa semua laki-laki itu sama saja, tidak aka nada laki-laki yang tulus mencintainya kecuali ayahnya.
Sulit bagi Ardy untuk mengutarakan yang sebenarnya. Mengubah ikatan persahabatan menjadi ikatan yang lebih dari itu. Tetap bersahabat, tapi lebih peduli dan takut kehilangan. Ardy tetap dan selalu ada disamping Nina. Hanya terdiam. Karena ia tahu, bahwa apa yang ia harapkan akan terjadi. Ia harus menjadi laki-laki kuat dihadapan Nina. Mana mungkin ksatria penolong kelihatan rapuh dan patah hati didepan gadis pujannya? Entah sampai kapan. Hanya waktu yang akan menentukan semuanya.
***
            Hari itu pengumuman untuk masuk ke perguruan tinggi negeri. Hari itu menjadi hari penting buat mereka, terlebih untuk Ardy. Ardy memutuskan untuk mengungkap semuanya. Apa yang telah menyita sepertiga waktunya untuk memikirkan hal ini. Hal yang membuatnya enggan untuk lebih dekat dengan sahabatnya.
            “Dy, liat gue keterima UI!” sorak Nina waktu mengetahui dirinya berhasil diterima di universitas yang ia impikan
            “Selamat ya! Gue juga nih, keterima UGM!” balas Ardy tak kalah sumringahnya, walaupun itu berarti kuliah akan membuatnya berpisah jauh dengan sahabatnya.
            “UGM?! Berarti kita jauh dong” kata Nina dengan wajah agak kecewa
            “Bagus dong, bosen gue sekolah sama lo terus hahahha” jawab Ardy berusaha mencairkan suasana.
            Ardy pun bertekad membuat hari itu tak terlupakan. Ia menghabiskan waktunya untuk bermain bersama Nina. Baginya itu adalah kado terbaik sepanjang umurnya. Ia urung mengutarakan perasaannya, melainkan menundanya lagi.
***
            “Besok Ardy harus pergi ke Yogya. Kok gue bener-bener gak rela ya dia pergi? Gimana kalo disana dia sakit? Gimana kalo dia disana butuh bantuan?”
            Pertanyaan-pertanyaan tersebut menghantui pikiran Nina semalam sebelum hari keberangkatan Ardy ke Yogya, ia sangat amat mengkhawatirkan bagaimana kehidupan Ardy setelah jauh dari Nina. Padahal hari-hari sebelumnya ia biasa saja, ia turut senang sahabat baiknya itu akhirnya dapat meraih cita-citanya. Tapi tidak dengan malam itu, ia cemas luar biasa akan hal yang belum pasti terjadi. Cemas akan apapun yang akan menimpa orang yang dicintainya.
            Keesokan harinya…
            “Nin, gue berangkat ya. Jaga diri baik-baik di Depok. Maaf gue gak sempet nganter lu kesana karena gue harus ke Yogya duluan.”
            “Iya Dy, gapapa. Lo juga jaga diri baik-baik. Kalo ada apa-apa jangan sungkan kabarin gue” tak kuasa air mata sudah mengalir ke pipi Nina
            “Eh jangan nangis gitu dong, oh iya, ini gue ada sesuatu buat lo” Ardy mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. Ternyata isinya adalah sepasang gelang dan secarik kertas berisi kalimat-kalimat indah seperti ini.

"Teruntuk sahabatku…

Apa kita bersahabat? Jika kau tanya itu, jawabku pasti iya.
Apakah jika kita bersahabat kita boleh memiliki rasa yang lebih? Jika kau Tanya itu, aku tak tau. Aku tak tau apakah seorang sahabat boleh mempunyai perasaan lebih terhadap sahabatnya. Entah. Tapi itulah yang ku rasa. Aku jatuh cinta kepada sahabatku sendiri. Aku berusaha melawan perasaan itu, tapi perasaan ini jauh lebih besar dari dayaku.
Perihal luka hati mu, jika kau beri aku kesempatan, maka takkan ku sia-sia kan kesempatan itu untuk menyembuhkan luka hatimu.
Sekarang, mau kah kau member kesempatan itu?"

Nina tak kuasa menahan tangis. Ia tak menyangka bahwa sahabatnya juga memiliki rasa yang sama dengannya. Seketika ia memeluk Ardy dengan erat. Ardy pun tersenyum tulus menerimanya.
***
Sebulan kemudian, Nina memutuskan untuk berkunjung ke Yogya. Tanpa sepengetahuan Ardy, ia dating untuk member kejutan di hari ulang tahunnya. Namun malang tak dapat ditolak, untuk tak dapat diraih. Yang ia dapat bukan kebahagiaan, tetapi malah kekecewaan.
 “Apa yang kamu liat barusan itu nggak seperti yang sebenarnya Nin, Reva tiba-tiba datang dan peluk aku begitu aja. Tapi plis, percaya sama aku. Percaya sama apa yang udah aku jelasin ke kamu sebulan yang lalu, diperon stasiun Gambir, malam terakhir sebelum aku kuliah ke Yogya. Aku sahabat kamu. Yang terlanjur jatuh cinta sama kamu. Harusnya kamu percaya sama aku kalo aku bisa balikin ke bahagiaan kamu”
“Tapi apa yang aku liat barusan itu apa?”
“Itu salah paham Nin, aku janji, aku akan nyembuhin luka dihati kamu yang terlalu sempurna dia buat. Kasih aku satu kesempatan Nin”
“Janji?” Tanyaku sambil menahan tangis
 “Janji.” Ucapnya mantap, dan memeluknya lebih erat. Ia pun tenggelam dalam tangis di dadanya.
Dan langit pun tersenyum. Langit enggan menurunkan hujannya lantaran sinar diwajah Nina lebih cerah sehingga matahari pun tidak ragu untuk ikut memancarkan sinarnya. Terkadang, karena kita terlalu sibuk menghitung bintang, kita jadi lupa betapa indahnya bulan. Apa yang tak pernah kita harapkan, terkadang bisa menjadi jawaban dari semua persoalan. Begitu pula Ardy, yang kehadirannya baru Nina sadari, namun ternyata begitu berarti.

            Dan perkara hati, hati seorang anak manusia itu sangat rapuh. Lebih rapuh daripada tahu tanpa formalin. Hati itu mudah rusak, bahkan hancur. Proses penyembuhan luka hati itu bervariasi. Ada yang cepat dan ada yang sangat lama. Semua tergantung waktu. Ya, waktu yang akan mengembalikan keadaan seperti semula. Selain waktu, diperlukan pula seseorang yang dapat menyembuhkan luka di hati. Dengan cara apa? Dengan cara mengganti kepingan hati yang rusak dengan hati yang baru.


-eL-
Ellya Rizki Handayani©2015

Minggu, 23 Agustus 2015

Self Spirit

Liburan panjang bulan Puasa dan semester bikin gue lupa banyak materi pelajaran. Tapi yang baiknya adalah semangat gue untuk belajar bangkit lagi. Bener-bener bangkit. Yang tadinya tinggal 30%, naik jadi 100% lagi. Banyak hal baru juga yang mau dicapai di semester yang baru. Gue pun mulai nulis goals yang harus gua capai di semester baru ini. Gue mulai niat dan ngumpulin semangat lagi.

Tapi, sebulan dikelas XI, gue merasakan kalo kelas XI perjuangan yang akan gua hadapin semakin berat. Tugas datang silih berganti. Gak ada abisnya kayak kenangan sama mantan, eh. Oke abaikan. Intinya, gue semangat gue makin kesini makin kendor. Mulai capek. Mulai mau ngeluh. Cemen banget ya?

Untungnya, belom lama ini gue chat sama kakak kelas gue. Yang notabene dia udah lulus SMA tahun ini. Kita suka sharing gitu. Gue juga curhat kalo tugas makin banyak. Tapi dia nyadarin gue lagi, kalo mimpi gue itu banyak banget. Dan gue harus bisa lebih dari ini. Dia bilang kalo semangat terbesar itu berasal dari diri sendiri. Gue juga setuju. Karena kalo kita ngandelin semangat dari orang lain, ketika penyemangat itu udah gak ada, kita akan kehilangan semuanya. Jadi, semua itu tergantung diri sendiri juga.

Jumat, 14 Agustus 2015

Unexpected Meeting

Hello reader(s)!!!
Apa kabar? Malem ini gue mau cerita di blog, kangen hehehhe. Tapi malem ini gue males buka laptop, jadi tulisan malem ini dipersembahkan oleh tab 10inch meskipun udah gede layarnya, tetep aja suka typo. Jadi gue minta maaf yaa kalo nantinya bakal banyak yang typo hehehhe..

Gue mau cerita nih, sebenernya gak penting. Tapi pengen cerita, yaudah lah gue cerita. Senin lalu gue ikut lomba English Debate sama dua temen gue, Clara & Eunike. Ini lomba English Debate gue yang kedua. Sebelumnya pernah ikut, tapi kalah telak karena itu first time nya gue ikut lomba debat. Sebelumnya gue emang udah sering ikut lomba, tapi speech. Sedangkan speech sama debate itu beda banget. Anak speech belum tentu bisa debate. Tapi anak debate udah pastii bisa speech.

Singkat cerita, siang itu gue disuruh lomba sama guru gue. Sebagai anak yang penurut (sebenernya emang seneng banget ikut lomba), gue meng-iya-kan perintah guru gue. Mulailah latihan sekaligus bolos jam pelajaran. Kadang gua merasa jadi anak baik, kadang gua merasa gua bengal banget hahahha. Waktu latihan kita pake buat 60% ngobrol 15%makan dan 25%latihan beneran hahahha
Lalu, hari Kamis kita dapet email dari penyelenggara tentang mosi yang ada kan di perdebatkan pas lomba. Sumpah kita seneng banget. Setelah itu baru deh serius latihan.
Beberapa mosi udah ada yang kita buat poin-poinnya. Tapi apa? Pas hari H, kita dapet mosi yang belum kita buat poin-poinnya. Waktu 10 menit case building bener-bener dimanfaatin. Pas maju, gua lega karena bisa nyampein argumen dengan lancar, yaa walaupun agak gak puas. Trus pas diumumin kalo tim gue menang, gak nyangka gitu. Speechless. Gatau muka gue cengo nya gimana. Hahahaha. Seneng tapi kaget.

Tapi pas hari kedua, tim gue harus kalah sama sekolah lain. Tapi yang menyenangkan adalah, gue dapet banyak temen baru yang asiknya parah banget. Ada yang langsung curhat macem-macem soal temen sekolahnya, ada yang pamer kalo jago gambar, ada yang curhat pernah ditolak cewek yang sekarang jadi pacarnya, ada yang cerita hapenya jatoh pas sebelum lomba, ada yang ngajak selfie tapi gak mau pake hape dia, ada yang ngajak debate di acara sekolahnya, ada yang sharing pengalaman. Pokoknya seru hhaha. Jadi meskipun gak menang, gue gak merasa kecewa. Karena gue dapet yang lebih berharga. Yaitu pengalaman dan teman. Itu priceless. Bahkan untuk tetep menjalin pertemanan gue punya contact mereka. Masih sering chat. Cerita tentang banyak hal. Dan itu seru. Lagipula dengan gue kalah, gue bisa persiapin materi buat presentasi bahasa Inggris besoknya. Rencana Allah emang indah yaa...



-eL-

Rabu, 29 Juli 2015

Adaptasi

Setelah lumayan lama gak ngeblog, akhirnya gua pengen ngeblog malem ini. Tiba-tiba dapet ide trus gak ada tugas (boong, sebenernya ada. Tapi gue kesampingkan karena masih awal masuk sekolah masih males untuk berjibaku sama tugas. Oke stop kepanjangan.) dan mood juga lagi bagus. Lagi seneng hehehe. Menurut blog robbyharyanto.com kalo kita punya ide untuk nulis sebaiknya cepet-cepet nulis.

Hari ini adalah hari ketiga MOPDB (Masa Orientasi Peserta Didik Baru). Udah pada tau dong ya MOPDB itu apa dan ngapain? Karena gua tau yang baca blog gue ini pasti yang sudah berumur. Eh maksudnya sudah remaja. Minimal udah lulus SD lah yaa, kan kalo baru lulus TK di SD gak ada MOPDB:v

Bagi gue yang udah ngalamin dua kali di MOPDB dan nge-MOPDB, sebenernya masa-masa MOPDB itu asik banget. Dimana lo ketemu lingkungan yang serba ba(r)u, temen baru, guru baru, kakak kelas kece dan lain-lain. Nge –MOPDB sebenernya lebih enak, tapi jelas lebih capek. Kenapa capek? Karena sebagai OSIS harus prepare semuanya demi ngasih kesan yang terbaik buat adik-adik barunya. Baik banget yaa OSIS? Iya dong.

Tahun ini gue emang gak ngalamin keseruan MOPDB, sedih sih. Gue cumin ngalamin pindah kelas alias dapet kelas baru. Bukan XMIA1 lagi. Dari pindah kelas maupun MOPDB gue menemukan kesamaan diantara keduanya, yaitu adaptasi.

Adaptasi menjadi hal penting ketika kita terjun ke suatu hal yang baru. Kesuksesan kita beradaptasi menjadi indikator keberhasilan kita di dunia yang baru tersebut. Bagi sebagian orang adaptasi itu cukup sulit. Bahkan saking sulitnya beradaptasi gue masih menemukan orang yang tidak saling tegur sapa padahal hampir tiap hari ketemu, orang ini pun cenderung pasif di dunia barunya, seolah menarik diri.  

Tapi untuk sebagian orang yang extrovert macem gue, gue gak terlalu kesulitan untuk beradaptasi. Bahkan ada temen gue yang mungkin dia gampang banget beradaptasi, sekarang semua orang di sekolah kenal dia dan dia kenal semua orang disekolah dalam waktu setahun. Soal elo tipe orang yang introvert atau extrovert, menurut gue dalam beradaptasi elo harus jadi orang yang extrovert. Sadari kalo kalian udah masuk ke dunia yang baru dan mulailah mencintai dunia baru ini. Karena tanpa adaptasi yang baik, akan susah ke depannya untuk mencapai kesuksesan disitu.

Oiya, balik lagi ke MOPDB, tadi sore gue terlibat perdebatan kecil sama bokap gue. Beliau liat di berita kalo disalah satu SMA ada perpeloncoan atau istilah Sunda Inggris nya bullying. Gue yang denger beritanya sepotong langsung gak setuju sama bokap gue. Ceritanya gue bela OSIS,karena notabene gue dulu pernah OSIS dan tau persis MOPDB yang gue jalanin itu sama sekali gak ada perpeloncoan. Tapi setelah gua bener-bener tau beritanya, gue cukup sedih. Karena menurut gue itu cukup melenceng dari fungsi MOPDB. Tapi gue juga gak mau mentah-mentah menolak MOPDB. Menurut gue kalo kita disuruh bawa ini itu dan pake ini itu asalkan jelas fungsi dan manfaatnya sih, kenapa harus protes? Contoh pake nametag dan pita buat penanda warna kelas, bukankah itu memudahkan orang lain buat saling mengenal? Ayolah, dari siswa nya sendiri juga jangan terlalu merasa terbebani. Inget, itu bukan apa-apa disbanding tugas yang kalian dapet di sekolah nanti. Tapi, jangan terlalu takut juga untuk melapor sekiranya ada kekerasan verbal maupun fisik.
Oke, udah malem juga. Besok mesti ke sekolah lagi buat ketemu dedek gemesh menuntut ilmu hehehe. Pokoknya nikmati masa MOPDB kalian, cepet-cepet beradaptasi sama lingkungan barunya dan jadi anak yang baik supaya disayang mama papa.



 Much loves,

-eL-

Selasa, 07 Juli 2015

Fobia Jatuh Cinta

Jatuh cinta. Jatuh cinta merupakan anugerah Tuhan, dimana kita sebagai makhlukNya dapat merasakan kebahagiaan yang teramat sangat ketika merasakannya. Namun perkara jatuh cinta ini menjadi rumit mana kala penolakan itu terjadi. Orang yang kita cintai tidak mencintai kita kembali. Hal yang terlihat sederhana tapi dapat meluluh lantahkan hati seseorang. Penolakan memberikan luka yang teramat dalam.

Selain penolakan, yang juga menyakitkan adalah, sudah menjalin hubungan namun harus kandas. Hal ini sangat disayangkan. Kebahagiaan sudah diraih, lalu mengapa luka itu hadir diantara kita? Mengapa kita melukai satu sama lain?

Memulihkan hati yang sudah dikecewakan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses. Lama. Hingga akhirnya luka itu mengering. Sembuh. Membaik.
Namun ada satu hal lagi yang salah. Hati ini hampa. Kosong. Tidak sakit, tapi juga tidak bahagia. Sama sekali tidak tertarik untuk jatuh cinta lagi. Ada perasaan takut, khawatir dan was-was akan dikecewakan lagi. Ada perasaan takut, khawatir, dan was-was akan menyakiti hati orang lain lagi.

Setelah aku sadari, ternyata aku terkena fobia jatuh cinta. Rasa takut untuk jatuh cinta, takut melukai dan dilukai, dan krisis kepercayaan terhadap orang lain. Ini memang salah. Tidak seharusnya aku biarkan terjadi. Tapi biarlah. Biarlah aku menikmati kesendirian. Biarkan aku tidak melukai siapapun. Biarkan aku bahagia dengan cara ku sendiri. Hanya Sang Pemilik Waktu yang dapat mengubah semuanya, yang akan mempertemukan ku dengan orang yang bisa meyakinkan ku untuk jatuh cinta lagi dan bahagia bersamanya.

-eL-

Jumat, 03 Juli 2015

Persembahan untuk Kelas Tercinta

Selamat pagi!
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tidak masalah jika kita berpisah dengan orang yang tidak kita sukai. Namun masalahnya, bagaimana jika kita berpisah dengan orang-orang yang kita temui 5 hari dalam seminggu dan setiap harinya hampir 8 jam? Orang-orang yang sudah seperti keluarga? Orang-orang yang menjadi saksi hidup dari tangis dan tawa kalian? Tentu perkara ini menjadi suit.
Orang-orang yang gue temui 5 hari dalam seminggu dan setiap harinya hampir 8 jam, orang-orang yang sudah seperti keluarga, orang-orang yang menjadi saksi hidup dari tangis dan tawa gue adalah 39 makhluk hidup dari kelas X MIA 1 a.k.a Tenmiawan’14. Perkara perpisahan ini menjadi berat banget buat gue karena pada dasarnya gue membenci perpisahan. Apalagi berpisah sama mereka yang udah jadi bagian dari diri gue.
Waktu berjalan sangat cepat. Tanpa sadar kalian pun udah baca seperlima dari tulisan gue. Tanpa sadar juga, gue harus pisah sama mereka. Emang gak sepenuhnya pisah, bisa jadi sekelas sama beberapa anak X MIA 1 lagi. Tapi namanya udah bukan X MIA 1 lagi. Sebagai tanda terima kasih gue, gue mau nulis semuanya tentang kelas terbaik yang pernah gue temui, X MIA 1.
Hari itu pra MOPDB dimana gue pertama kali ketemu mereka. Kita masuk ruangan di salah satu SMA di Jakarta (sebut saja SMA Hogwarts). Di depan pintu tertulis “Ruang 11”. Ruangannya di pojokan. Kesan pertama adalah “bau”. Kenapa? Karena emang beneran bau feses kucing. Entah baunya dari mana. Dan gue langsung mikir “oke, ini kelas buangan”.
Lalu kesan kedua yang gue dapet adalah “asing”. Dimana gue sendirian dari SMP gue (sebut saja SMP gue namanya SMP Sukamaju). Dan mayoritas di kelas itu adalah siswa dari SMP Jugasukamaju, yang mana SMP Jugasukamaju adalah rival SMP gue. “matilah gua sekelas sama mereka, pasti entar gue gak ada temen deh” itu lah yang ada di benak gue. Udah kebayang betapa gak enaknya setahun kedepan.
Oke, kesan pertama, sudah. Hari- hari disekolah berjalan biasa. Anak-anak dari Jugasukamaju ini masih susah beradaptasi, masih asik sendiri sama alumni dari sekolahnya. Alhasil, minoritas macem gue lumayan tidak diperhatikan.
Namun lama kelamaan, hal yang luar biasa terjadi. Ada dua anak yang bukan dari SMP Jugasukamaju ini pinter banget. Itu yang memotivasi gue untuk show off juga. Pokoknya niatnya cuma mau dipandang. Hehehe emang sih niat awalnya jelek banget. Cuma dampaknya, gue jadi bisa maksimalin apa yang gue bisa.
Lambat laun kekompakan mulai terasa akibat adanya kerja kelompok melulu. Iya, kerja kelompok. Sebel banget sih tugas kelompok gini, capek ngumpulnya. Tapi baiknya adalah, kita lebih bisa mengenal satu sama lain. Nah disini gue mulai paham, ternyata anak alumni SMP Jugasukamaju itu baik. Baik banget. Kalo udah deket sama mereka, mereka akan baik banget.
Oke, baru sampe sini aja gue udah belajar dua hal. Yaitu, maksimalin potensi diri dan gak langsung  menilai sesuatu mutlak dari luarnya aja. Pelajaran berharga itu gue dapet tanpa sengaja. Semua mengalir begitu aja. Sama sekali tanpa disadari. Sampe akhirnya, pas mau pisah gini baru paham ternyata banyak banget hal berharga yang tanpa disengaja kita terima dari hal yang mungkin awalnya kita benci.
Lalu, kenapa gue cinta banget sama mereka adalah mereka bener-bener jadi saksi perjuangan gue. Mereka yang memotivasi gue untuk jadi yang lebih baik. Mereka tau gimana susahnya gue ngerjain tugas, mereka tau kapan gue nangis saat bener-bener pusing sama tugas. Mereka tau gimana usaha gue untuk bisa (paling tidak) sama kayak mereka. Mereka yang jadi penyemangat untuk hapalan biologi. Mereka yang mencegah gue untuk tidur awal karena mereka gak mau gue gak bisa. Kita sering banget begadang bareng buat belajar. Tanya jawab. Bagi materi. Semua dilakuin karena kita gak pengen ada satu diantara kita yang gak bisa. Kita saling bantu sebelum ulangan. Tapi ketika ulangan, kita semua masing-masing. Nah, kelas ini juga ngajarin gue untuk jujur. Hal simpel yang belum tentu semua orang lakuin.
Yang bikin gue semakin bangga menjadi bagian dari X MIA 1 adalah anak-anak dikelas ini tuh aktif bangetttttttt. Setiap presentasi atau ngerjain tugas apapun kita paling gak mau ketinggalan dari kelas lain. Pokoknya kita punya semangat untuk jadi yang terbaik disegala bidang. Ada sifat mau menang sendiri dalam hal ini, tapi sifat itu akhirnya jadi hal positif. Kita semakin termotivasi untuk jadi yang terbaik. Dan terbukti, pas UTS atau UKK, kelas kita sering dapet nilai tertinggi atau rata-rata tertinggi . Banyak guru yang puas sama hasil belajar kita. Kita disayang guru! Gak nyangka. Kelas yang awalnya gua kira buangan, ternyata bisa begini:’3 emang sih gak semua guru sayang kita. Tapi setidaknya kita bisa menunjukkan kalo kita itu mampu. Selain prestasi akademik yang bagus, temen-temen gue ini semuanya punya bakat masing-masing. Gue udah pernah jabarin bakat kita satu persatu di ask.fm . Silakan di cek ask.fm gue: ellyarizkyani24. Beberapa temen gue juga udah ada yang nyumbang prestasi. Rasanya gak berlebihan kalo gue menyebut mereka (XMIA1) itu adalah terbaik. Bukan membangga-banggakan karena itu kelas gue. Tapi emang faktanya yang ada seindah itu.
Pasti kalian mengira kalo kehidupan dikelas itu serius banget. Belajar terus. Nurut terus sama guru. Gak pernah becanda. Kelas selalu hening. Well I have to say, it’s a BIG NO. Hahaha  sebagai murid SMA yang normal, kita gak se-lempeng itu kok. Emang gue akui kelas ini emang belajar terus. Tapi kita juga becanda terus. Yaa, work hard, play hard lah yaaa. Hampir setiap hari gue ketawa sampe nangis. Kita suka lupa diri kalo becanda dan ketawa-tawa. Bahkan guru kesayangan kita pun pernah negur kita saking berisiknya dan mengganggu beliau yang lagi ngajar kelas sebelah. Yaa, namanya anak-anak, ditegur gimana pun juga tetep bandel hehehe. Pernah juga saking ributnya pernah mecahin jam di kelas sebelah. Oke, kita emang bandel juga hehehehe.
Lalu, hal alasan apalagi  yang mendukung gue buat pisah sama kelas seindah ini, seasik ini, senyaman ini, selucu ini? Gimana bisa setahun yang penuh keseruan hilang begitu aja? Semua keseruan kita cuma bisa tersimpan dalam ribuan foto kita selama setahun ini. Tapi, semua itu gak akan terulang lagi.

“We keep this love in a photograph, We made this memories for ourselves
Where our eyes never closing, Heart are never broken, And time’s forever frozen still
So you can keep me inside the pocket of your ripped jeans
Holding me closer ‘til our eyes meet
You won’t ever be alone, Wait for me come home”
ED SHEERAN-


Walaupun nantinya kelas 11 kita udah gak mungkin sekelas lagi, tetep yaa semangat untuk jadi yang terbaiknya gak boleh ilang. Harus tetep jujur. Tetep aktif disegala bidang. Inget janji kita “39 anak dari kelas XMIA1 harus masuk PTN lewat jalur SNMPTN” aamiin ya Allah. Semoga janji dan cita-cita kita terkabul. Terima kasih untuk satu tahun yang luar biasa.

Bonus foto-foto nihhh

























Deskripsi foto:

Ini foto waktu pramuka
Ini setelah praktikum fisika
Ini tanggal 8 Maret 2015 waktu kita ikut event Teen Running Challenge dari Hilo Teen
Tali beha Padul hehehehe
Yang cowok itu Nanda (anak baru), yang kiri itu Oliv (udah pindah). Di event Teen Running kita ngenalin anggota baru ke anggota lama hehehe
Teen Running selfie (1)
Teen Running selfie  (2)
Teen Running selfie (3)
Ini iseng, mainin cat air di kantin. Sampe kena baju dan kerudung. Hal kecil gini aja udah bikin ketawa hehehe
Ini pas ulang tahun sekolah. Kita foto sama kepsek tercinta, Papi Hari:3
Ciwi-ciwi canci tenmiawan
Praktikum fisika nihhh hehehe. Ada gue, Nisa, Sandro, Sheny
Ini kelompok Pagelaran Ganjil with Bu Sihar
Ultah bu Nur yeayyyyyy
Ultah bu Nur yeayyyyyy (2)
Sama MD nihhhh, guru English tercintaaaa:3
Ceritanya bahagia gitu setelah UKK Genap
ini gatau ngapain, yang jelas kita semua ketawa hehehe
 Foto terakhir pas kita kumpul nih, waktu bukber di Bebek Kaleyo
 bukber nihhhh
Kita ngasih ini ke bu Nur dalam rangka HUT PGRI, a6 khannnn?
ini setelah belajar fisika. Biar pusing tetep selfie wkwkwk
Kartini masa kini
Kartini masa kini (2)
 X MIA 1 all crew, minus Dede&Nurul

-eL -

Selasa, 16 Juni 2015

Move Up

Hello my kind-hearted readers!
I’m back. Kali ini gue akan bahas satu topik request-an dari salah satu reader dari blog ini. Seseorang ini minta gue untuk bahas “Gagal Move On”. Galau banget yaa sis? Hehehe. Tapi yang akan gue bahas mungkin lebih ke “What Should We Do After Break Up? Move Up!”
Putus cinta. Satu hal yang menjadi mimpi buruk buat semua orang yang lagi menjalani hubungan pacaran, dan hal yang nggak diharapkan untuk terjadi. Tapi, apalah daya, malang tak dapat ditolak untung tak dapat di raih. Putus cinta menjadi akhir buat sebuah hubungan itu, tapi juga menjadi awal yang baru buat masing-masing individu untuk memperbaiki dan mengembangkan dirinya. Putus cinta sering kali bikin orang galau, stress, frustasi atau bikin gak punya semangat untuk hidup. Nah ini yang salah. Hidup ini pilihan. Dan kita yang nentuin pilihan hidup kita sendiri maunya apa. Disini gue pengen kita gak salah memilih langkah setelah putus. Sebagai cewek, gue pengen kita (re: para cewek) gak terlalu mempermasalahkan soal ‘putus cinta’ sebagai beban terberat hidup kita hehehe.

Oke, yang pertama gua mau bahas tentang apa yang harus kita lakukan setelah baru putus

1.       Sadar kalo emang semuanya udah beda.
Dia bukan milik kamu lagi. Jadi meskipun tetep harus jaga silaturahmi, harus tetep bikin jarak supaya kita gak baper getoooo wkwk. Bahaya kalo baru gini aja udah baper, bisa-bisa belum apa-apa udah gagal move on hehehe.

2.       Gak usah ngotot untuk hapus semuanya sekaligus.
Setelah putus biasanya orang memilih buat menghapus semuanya. Chat BBM, LINE, Whatsapp, SMS, foto, dan lain-lain. Menurut yang udah pernah gue rasain, menghapus semuanya sekaligus justru malah bikin kita flashback lagi. Kenapa? Chat yang udah banyak banget, pas kamu berusaha hapus mau gak mau kamu akan buka lagi. Semua memori keputer lagi. Flashback. Gagal lupa. Jadi gimana solusinya? Biarin aja semua apa adanya. Gak usah berusaha hapus. Tapi jangan berusaha untuk baca ulang berkali-kali. Cukup semua itu tersimpan rapat di hape kamu.

3.       Jangan sok tegar dengan nggak nangis.
Kalo kamu sedih, nangis. Luapin semua emosi kamu, tapi janji setelah ini semua kamu akan bangkit dan gak akan pernah nangis untuk hal yang sama lagi.

4.       Berhenti kepoin dia.
Putus emang gak perlu unfollow dan block dia di sosmed. Tapi, bukan berarti kamu mesti tau sekarang keseharian dia gimana. Tau dia masih sekolah, masih sehat, itu udah cukup. Gak perlu cari tau dia lagi deket sama siapa. Plis itu gak elegan, Girls:3

5.       Jangan terburu-buru suka sama orang.
Sebelum kamu yakin bener-bener move on, jangan dulu deh menjalin hubungan sama yang lain. Hal ini akan buat kamu cuma melampiaskan perasaan ke orang baru ini. Kasian kan yang baru ini cuma jadi pelampiasan.

     Menyibukkan diri ke hal yang positif.
Dulu pas pacaran, waktu kamu tersita sama pacar aja kan, nah setelah putus waktunya kamu untuk bangkit dan mengembangkan diri kamu. Harus jadi jomblo yang produktif, bukan jomblo yang masih stalking mantan terus hehehe.


Terus el, kalo hal diatas udah dilakuin tapi masih belum bisa lupa gimana? Semua itu butuh proses. Mungkin kamu sampe sesusah ini untuk lupa sama dia karena proses kamu berhubungan sama dia juga lama. Dari sekedar deket, suka sampe sayang banget. Semua butuh proses.

Lalu, gimana kita tau udah move on atau belum? Kita, tau kita udah move on itu ketika kita udah bisa senyum bahagia, bukan senyum palsu, ketika kita liat dia  sama orang lain. Dan udah gak ada rasa perih lagi hati ketika denger nama dia. Kalo kamu masih sebel, kepo, belum ikhlas, itu namanya belum move on. Dan kamu mesti ngulang cara-cara diatas.

Dan, sebenernya kata “move on” itu kurang tepat. Harusnya “move up”. Kenapa? Karena kalo move up, selera kita nantinya akan satu level lebih tinggi dari sebelumnya. Jadi yang kita dapet nantinya itu bisa lebih baik dari sebelumnya. Contoh, dulu suka sama cowok yang ganteng doang tapi imannya kurang kuat, nah kamu harus nyari pasangan kamu kelak yang gak cuma ganteng tapi imannya kuat juga.

Jadi, putus cinta bukan akhir dari segalanya. Masih banyak hal lain yang perlu di perhatikan selain mantan. Tapi, untuk bisa memulai hidup baru yang lebih baik, kita harus berdamai dengan masa lalu kita dengan cara Move Up! Be strong , independent, and always be kind-hearted girl:3

Much Loves,



eL