Jumat, 18 Mei 2018

Belum Berjudul

Atas cacian yang menerka pada jiwa yang lemah,
Aku terima--
Walaupun sedikit lelah.
Seribu julukan rela ku tanam
demi intuisi yang mungkin salah untuk ku gapai.
Ini bukan tentang tiga tahun silam-- kau pergi beranjak hilang.
Kau tahu,
Aku tak akan pernah mempermasalahkan.
Dan kau pun selalu tahu,
Jika kau pergi --tanpa pamit sekalipun,
bukan berarti radar ketetapanku pun hilang.
Bagiku
Kau adalah mutlak menjadi bahagiaku setiap harinya.
Tapi,
Yang kau tak pernah tahu adalah,
Cacian yang berdengung di kepala,
Sampai-sampai,
Tubuh ini kaku.
Mereka tak pernah tahu,
Alam bawah sadarku selalu menemukan hal indah pada dirimu.
Mereka pun juga tak akan pernah tahu,
Tingkahmu yang lucu,
Selalu menjadi pewarna hari ku yang mulai abu.
Hei,
Memori ini masih membekas di kepalaku-- menggebu-gebu.

Maaf,
Aku telalu menyelam
Hingga mencintaimu sangat dalam.
Jika kita dipertemukan adalah kesalahan,
Ini adalah kesalahan yang paling tak akan pernah ku lupakan.
Terimakasih,
Untuk kau yang pernah ada dalam tiap-tiap hari ku
Namun jika kau tidak keberatan,
Boleh mampir sebentar
Untuk mengisi hari ku lagi yang mulai kelam?

-NAQ-

P.s: Tulisan seorang sahabat yang karena luka hatinya dapat menghasilkan sebuah karya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar